UMY Tingkatkan Perekonomian Warga Gatak II Melalui Budi Daya Nila Berbasis Bioflok

Peningkatan Perekonomian Masyarakat Melalui Budidaya Ikan Nila Berbasis Teknologi Bioflok Beserta Akuntansinya. - Istimewa
22 Januari 2021 00:12 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Andan Yunianto, dosen Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengisi Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan kegiatan bertema Peningkatan Perekonomian Masyarakat Melalui Budidaya Ikan Nila Berbasis Teknologi Bioflok Beserta Akuntansinya.

PKM berlangsung di RT 5 RW 2 Tunjungan Gatak II, pada Juni, Juli, dan Agustus 2020.

“Selain memberikan penjelasan secara langsung, kami juga memberikan outline panduan sederhana dalam pemeliharaan ikan mila dengan teknologi bioflok. Panduan ini diambil dari banyak referensi, sehingga bisa menjadi panduan praktis bagi mitra dalam pelaksanaan pemeliharaan ikan nila dari persiapan samapai dengan panen. Dengan outline panduan tersebut, mitra bisa mempelajari sendiri, lalu mempraktekannya langsung,” kata Andan melalui keterangan tertulis kepada Harian Jogja.

Kegiatan diawali dengan belanja peralatan dilakukan oleh pendamping. Setelah barang datang, maka baru diserahkan ke mitra. Belanja perlengkapan kolam dilakukan secara offline maupun online. Belanja secara online dilakukan melalui OLX dan Tokopedia untuk mendapatkan peralatan yang dibutuhkan. Sedangkan Belanja secara offline dilakaukan untuk membeli batako sebagai dasar kolam agar posisi kolam lebih tinggi dari tanah sekitar, sehingga memperlancar aliran pembungan kolam (outlet).

Adapun peralatan yang dibeli adalah kolam terpal bulat 2 set dengan diameter 3 meter yang terdiri dari: kolam terpal bulat, rangka besi Wiremesh, Pralon outlet, tali pengikat, dan selang, kemudian aerator dengan daya cadangan, Probiotik, Selang aerator dan batu aerator, kabel dan colokan listrik, serta batako.

Pembuatan kolam dilakukan sendiri oleh mitra dengan bimbingan dari pendamping. Dasar kolam dibuat sesuai dengan minat mitra. Satu kolam dengan dasar persegi dan satu kolam dengan dasar bulat. Setelah dasar kolam dibuat dengan tatanan batako, lalu besi wiremesh dirangkai membentuk lingkaran untuk kerangka kolam terpal bulat. Setelah kolam terpasang lalu, selang aerator dan batunya dipasang dan dihubungkan ke mesin aerator.

Setelah kolam siap, maka mitra melakukan pengisian kolam dengan air sebanyak 6m3 atau setinggi 80cm. Selanjutnya kolam diberi bahan-bahan untuk membentuk bioflok oleh mitra berdasarkan outline yang diberikan pendamping kepada mitra.

“Budidaya dengan teknologi bioflok membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang lebih besar dari budidaya dengan teknologi tradisonal. Selama pemeliharaan, mitra cenderung masih berpikir budidaya secara tradisional, sehingga di tengah pemeliharaan mitra minta untuk mengubah metode budidaya dari teknologi bioflok ke teknologi tradisional. Sehingga program ini gagal dilaksanakan secara penuhm,” ujar Andan. (ADV)