Dosen UMY Tingkatan Kompetensi Guru Bahasa Arab melalui Program Pelatihan Intensif

Dosen UMY Tingkatan Kompetensi Mengajar Guru Bahasa Arab melalui Program Pelatihan Intensif. - Ist.
30 Desember 2020 05:57 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dosen PBA UMY Roojil Fadillah menjelaskan belajar bahasa Arab semakin digemari oleh masyarakat, motivasinya pun berbeda-beda. Mulai dari faktor teologik yaitu ingin mendapatkan berkah dan pahala dari Allah lantaran bahasa Arab adalah bahasa Surga. Belajar karena faktor pragmatik, yaitu belajar karena ingin berkomunikasi menggunakan bahasa Arab di bidang ekonomi, politik, dan budaya.

“Belajar karena faktor akademik yaitu bagi para pelajar yang menginginan lulus maka harus mengambil mata pelajaran bahasa Arab. Semakin banyak minat pembelajar bahasa Arab harusnya semakin banyak pengajar yang handal di bidangnya, semakin tinggi kualitas sumber daya guru maka semakin tinggi kualitas output yang dihasilkan,” katanya kepada Harianjogja.com.

 Bidang-bidang ilmu yang dipelajari dalam bahasa Arab adalah Kaidah Nahwu (Sintaks), Shorf (Morfologi), Ashwat (Fonologi), Dilalah (Semantik), 4 keterampilan berbahasa, istima’ (mendengarkan), kalam (berbicara), qirooah (membaca), dan kitaabah (menulis), Balaghoh (Ilmu Retorika), dan Syair. Sekian banyak bidang ilmu bahasa Arab yang harus dipelajari menuntut alokasi belajar yang banyak dan sumber daya guru berkualitas.

Ia mengatakan empat tahun belajar di Prodi Pendidikan Bahasa Arab tidaklah cukup untuk menguasai semua bidang-bidang bahasa Arab, maka tidak heran banyak guru lulusan Pendidikan Bahasa Arab yang mengalami kesulitan mengajarkan bahasa Arab. Kesulitan-kesulitannya berupa guru sulit mengajarkan huruf hijaiyyah dan cara menyambungnya, alokasi waktu mengajar yang sangat sedikit.

“Materi ajar tidak sesuai dengan level pendidikan pelajar, minat belajar yang rendah, bahasa Arab jarang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Arab diajar oleh guru yang tidak ahli di bidang bahasa Arab, guru tidak bisa menggunakan metode dan media setiap mengajar sehingga mengajar tidak efektif dan efisien, guru tidak menanamkan kesadaran belajar bahasa Arab, guru tidak kompeten dalam bahasa Arab, guru tidak menyiapkan rencana pembelajaran,” ujar alumnus Pelatihan Guru di Universitas Ummul Qura Makkah, Arab Saudi.

Pelatihan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan guru bahasa Arab, membekali guru berbagai keterampilan-keterampilan pengajaran bahasa Arab yang ada di era perkembangan teknologi. Pelatihan ini membantu mengembangkan kompetensi guru di bidang pengajaran Bahasa Arab, dan meningkatkan 4 keterampilan berbahasa, istima’ (mendengarkan) dan keterampilan kalam (berbicara) secara khusus.

Selain itu untuk menumbuhkan budaya praktek muhadatsah dalam keseharian guru, serta membekali guru dengan metode, media, dan materi yang sesuai sehingga pembelajaran menjadi menarik, efektif, dan efisien. Pelatihan dilaksanakan selama kurang lebih 2 jam sehari sebagai bentuk pemantapan materi, bahasa pengantar pelatihan ini adalah bahasa Arab dan Indonesia sebagai sarana latihan meningkatkan keterampilan berbahasa guru.

“Pelatihan ini adalah salah satu bentuk pengabdian dosen program studi Pendidikan Bahasa Arab kepada mitranya yaitu alumni yang sekarang berprofesi sebagai guru diberbagai instansi pendidikan di Jogja. Skema pengabdian ini adalah pengabdian kemitraan masyarakat, alumni sebagai masyarakat guru yang bermitra dengan program studi Pendidikan Bahasa Arab untuk meningkatkan keilmuan guru alumni,” katanya

Metode yang digunakan dalam pelatihan ini yaitu pembinaan secara partisipatif. Adapun teknik pelaksanaan program ini  dilakukan secara tim yang terdiri dari dosen, ditugaskan untuk mendampingi guru-guru  agar pelaksanaan pelatihan berjalan secara optimal. Pelatihan ini dikhususkan guna  memantapkan dan meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan kreativitas  mengajar guru di kelas serta memahami metode mengajar keterampilan berbicara yang afektif.

Program pelatihan ini dilaksanakan melalui video conference online, karena situasi pandemi sehingga pertemuan tatap muka sangat tidak dianjurkan. Berdasarkan hasil pelaksanaan pelatihan bahwa kemajuan kegiatan hingga  laporan ini dibuat telah mencapai 90% mengacu pada proposal yang telah disusun  sebelumnya dan serta berdasarkan target awal bahwa guru sangat antusias  mengikuti proses pelatihan.

“Guru sudah bisa memahami metode mengajar keterampilan berbicara sesuai dengan kaidah yang ditentukan oleh Native Speaker, ada inovasi baru bagi guru untuk memecahkan masalah kesulitan belajar siswa, yaitu bantuan media pembelajaran online yang komprehensif. Adanya respon baik guru bahwa 85% guru sangat puas, dari mitra  yaitu ktua Alumni Pendidikan Bahasa Arab berharap kegiatan seperti sangat bermanfaat sehingga dapat  dilanjutkan kembali untuk pelatihan episode selanjutnya,” jelasnya.