Kini, Minat Siswa terhadap Seni, Bahasa dan Budaya Jepang Bertambah

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan kegiatan berjudul Peningkatan Minat dan Kompetensi Seni dan Budaya Jepang Melalui Shodo Pada Japanese Club di SMAN 4 Yogyakarta. - Ist
30 Desember 2020 21:37 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan kegiatan berjudul Peningkatan Minat dan Kompetensi Seni dan Budaya Jepang Melalui Shodo Pada Japanese Club di SMAN 4 Yogyakarta.

Kegiatan yang didampingi oleh Wistri Meisa, M.Pd selaku dosen Pendidikan Bahasa Jepang/Pendidikan Bahasa UMY ini dilaksanakan pada 28 Oktober 2020 dan 5 November 2020 dengan sasaran para siswa anggota Aoibara, Japanese Club SMAN 4 Yogyakarta.

Dari hasil observasi dan wawancara dengan pembina Aoibara, Pipit Pebriani Puspitasari, S.S., diketahui bahwa permasalahan mitra dilatarbelakangi dengan minimnya minat siswa terhadap bahasa Jepang karena materi bermuatan budaya tidak ditawarkan, khususnya dalam klub bahasa Jepang. Kegiatan klub hanya seputar pembahasan materi kebahasaan dan tidak termasuk materi seni dan budaya Jepang. Hal ini menyebabkan kompetensi seni dan budaya siswa juga masih terbatas.

Menurut Wistri, pentingnya penguasaan kompetensi seni dan budaya dilandasi oleh dampak positif terhadap pembelajaran bahasa. Pengalaman budaya dapat mengasah intuisi berbahasa seseorang. “Kompetensi tersebut juga dapat diasah dengan mengikuti lomba-lomba yang sering diselenggarakan oleh lembaga pendidikan bahasa Jepang, baik informal maupun formal seperti sekolah menengah atas atau perguruan tinggi. Lomba tersebut misalnya berupa lomba odori, manga hingga shodo yang seluruhnya berfokus pada kompetensi seni dan budaya,” katanya dalam rilis.

Shodo, merupakan salah satu produk seni dan budaya Jepang yang cukup familiar bagi orang Indonesia karena ia juga populer dikenal sebagai “kaligrafi Jepang”. Shodo memang merupakan suatu seni kaligrafi, bagaimana cara menulis kanji dalam tatanan tertentu dan memiliki nilai filosofi mendalam. Nilai filosofi inilah yang dapat menggambarkan situasi sosial masyarakat Jepang sebagai pengguna bahasa native. Pemahaman pembelajar asing terhadap hal tersebut pada akhirnya akan berpengaruh kepada strategi berkomunikasi dalam bahasa Jepang.

“Pada intinya, dengan kegiatan ini diharapkan siswa-siswi yang tergabung dalam Aoibara, Japanese Club SMAN 4 Yogyakarta dapat lebih berminat terhadap seni, bahasa dan budaya Jepang. Selain itu mereka juga mendapatkan kompetensi budaya baru yang dapat diasah melalui pendampingan yang diberikan sehingga nantinya mereka dapat berpartisipasi dalam kompetisi shodo lokal atau regional,” lanjut dia.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Zoom dengan dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama terdapat dua sesi, yaitu sesi pengenalan huruf kanji dan shodo serta sesi pelatihan. Pertemuan kedua merupakan lanjutan dari kegiatan berupa pendampingan melukis shodo hingga di akhir kegiatan peserta mampu menulis frase kanji dalam shodo. Kegiatan kemudian ditutup dengan penutupan dari ketua program dan sepatah dua patah kata dari mitra pengabdian oleh pembina Aoibara.

Wistri mengatakan, berdasarkan hasil kuesioner pengabdian peserta menunjukkan persepsi positif terhadap program pengabdian ini. Seluruh peserta menyatakan bahwa dengan kegiatan shodo, minat mereka terhadap seni, bahasa dan budaya Jepang semakin bertambah.