Angkat Sentra Produksi Kandang Ayam Bambu lewat Pagelaran di Joglo Jetis

Suasana pagelaran wayang kulit di Joglo Jetis. - Ist
30 Desember 2020 17:37 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Di tengah Budaya Jawa yang mulai terkikis pada era globalisasi ini, Dusun Jetis RT 03 Daleman, Gilangharjo, Pandak, Bantul menjadi dusun yang masih kuat dan memperhatikan warisan budaya.

Tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melalui skema pengabdian Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) membantu mempromosikan kegiatan Joglo Jetis yang ada di dusun tersebut.

“Kami ingin mengangkat mempromosikan kegiatan Joglo Jetis dan mengangkat daerah Jetis RT 03 sebagai sentra produksi kandang bambu,” tutur Rela Adi Himarosa selaku dosen Prodi Teknik Mesin yang juga dosen pengampu kegiatan tersebut.

Tim UMY mempromosikan Joglo Jetis dengan menggelar kegiatan seni wayang kulit. Acara yang diihadiri oleh para dalang dan masyarakat dusun berlangsung meriah karena sentuhan
seni Dalang Ramijo yang memainkan lakon Wayang Pandawa dan Punakawan yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

“Pagelaran ini juga diadakan untuk mengingatkan adik-adik sebagai penerus bangsa untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan jawa istilahnya adalah dadi bocah kudu jawani [harus menjadi anak yang mau melestarikan kebudayaan Jawa],” lanjutnya.

Melalui program pengabdian ini, tim UMY ingin menghidupkan kembali Pendopo Joglo Jetis sebagai daya tarik terhadap bangunan cagar budaya. “Bangunan ini memiliki banyak sejarah dan nilai kebudayaan, terlebih di dalamnya ada seperangkat alat gamelan yang digunakan untuk karawitan sanggar seni,” kata Rela Adi Himarosa.

Sementara itu, Ketua Sanggar Seni setempat, Yoto, menyambut baik kegiatan yang sudah dilakukan tim pengabdian dari UMY. “Hal ini memberikan manfaat yang besar demi keberlangsungan sanggar,” katanya.

Semakin dikenalnya Joglo Jetis sebagai cagar budaya oleh masyarakat diharapkan ikut mampu mengangkat potensi warga sekitar Joglo sebagai sentra produksi kandang ayam bambu.