Dosen UMY Tingkatkan Pengetahuan Jemaah Masjid tentang Kerasukan

Peningkatan dan Pemurnian Wawasan Keagamaan tentang Kerasukan bagi Aktivis Masjid Melalui Pelatihan Euqyah Syar'iyyah
10 November 2020 21:12 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Tumin, dosen Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Dusun Brajan, Tamantirto, Bantul, pada 26 Juli 2020.

PKM tersebut bertema Peningkatan dan Pemurnian Wawasan Keagamaan tentang Kerasukan bagi Aktivis Masjid Melalui Pelatihan Euqyah Syar’iyyah dan diikuti 30 aktivis masjid.

“Tujuan PKM ini adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ajaran Islam secara mendalam terutama berkaitan dengan masalah kerasukan, meningkatkan pengetahuan tentang konsep ruqyah syar’iyyah di dalam agama Islam, dan untuk memberikan kemampuan atau ketrampilan bagi aktivis masjid tentang bagaimana menjadi penterapi dan cara mengobati gangguan non- medis,” kata Tumin.

Kegiatan program pengabdian masyarakat ini melalui beberapa tahapan, tahap pertama ialah penjelasan teori ruqyah syar’iyyah. Dalam hal ini, pengabdi menyampaikan materi kepada warga Brajan  bahwa dalam agama Islam ada ajaran pengobatan islami yaitu pengobatan dengan ruqyah syar’iyyah yang berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun doa-doa dari as-Sunnah. Selain itu, pengabdi juga memberikan contoh bahwa pengobatan ini sudah  dipaktekkan sejak Masa Nabi Muhammad saw hingga sekarang, baik untuk pengobatan penyakit fisik maupun non fisik semisal gangguan kerasukan jin.

Tahap kedua adalah pengabdi memberikan demontrasi sekaligus cara pengobatan ruqyah syar’iyyah secara langsung. Disini, pengabdi memohon kepada peserta untuk melakukan apa yang pengabdi instruksikan, sebagai contoh memohon kepada mereka untuk membaca ayat kursyi secara keras, kemudian meminta seorang peserta ke depan melakukan demontrasi di hadapan semuanya tentang  tatacara  pengobatan  ruqyah syariyyah, kemudian terkahir peserta diminta untuk duduk secara berpasangan dan melakukan praktek secara langsung dengan kawannya,  dibawah bimbingan secara langsung dari pengabdi untuk melihat benar tidaknya prakteknya. Program terakhir dari pengabdi lakukan dari kegiatan ialah melakukan pendampingan kepada peserta setelah mereka mengikuti program ini. Proses pendampingan dilakukan secara online melalui media sosial dan offline.

Edi Supriyono, Ketua Takmir Masjid Nurul Dholam  mengatakan bahwa masyarakat sangat senang dan antusias dengan diadakannya kegiatan seperti ini karena mayoritas mereka belum mendapatkan ilmu seperti ini dan ilmu seperti ini sangat jarang ditemukan dan tentunya bisa memberikan pencerahan bagi mereka. (ADV)