Dosen UMY Berikan Terapi Berkebun bagi Penyandang Disabilitas Mental

Sukuriyati Susilo Dewi, dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), memberikan terapi berkebun bagi penyandang disabilitas mental di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyadang Disabilitas (BRTPD) Pundong, Bantul, 15 Juli 2020 - 20 Oktober 2020. - Istimewa
06 November 2020 17:07 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Sukuriyati Susilo Dewi, dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), memberikan terapi berkebun bagi penyandang disabilitas mental di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyadang Disabilitas (BRTPD) Pundong, Bantul, 15 Juli 2020 - 20 Oktober 2020.

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini diikuti 22 peserta, tiga pendamping, dan tiga pekerja kebun.

“Tujuan PKM ini adalah agar perawat ahli kesehatan jiwa meningkatkan kapasitas dalam mendapingi kegiatan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas mental [PDM]. PDM memiliki motivasi yang rendah dalam aktivitas yang membutuhkan intervensi selain obat serta dukungan sosial. Peningkatan kapasitas pendamping dalam mendampingi PDM akan menjaga PDM memiliki kondisi klinis yang stabil sehingga bisa melaksanakan kegiatan dengan baik,” kaya Sukuriyato.

Tim UMY mendampingi pendamping PDM dalam melaksanakan kegiatan bercocok tanam berkebun. Cocok tanam yang dipilih adalah budi daya sayuran dan tanaman buah. Diharapkan hasil berkebun dapat memberikan tambahan sumber nutrisi yang dirasakan langsung oleh warga BRTPD.

Kegiatan dilaksanakan dengan menyesuaikan protokol kesehatan masa pandemi Covid-19. Kegiatan bersama tetap bisa dilaksanakan mengingat, peserta adalah warga binaan yang tinggal di dalam asrama sehingga tidak mengumpulkan masa yang berasal dari banyak wilayah.

“Peserta tinggal dalam satu lingkungan. Peserta wajib memakai masker selama di dalam asrama, termasuk ketika pelaksanaan kegiatan dilaksanakan. Walaupun kadang ada peserta yang membuka masker, karena keterbatasan kognitif dalam menerima penjelasan pentingnya menggunakan masker, tetapi pendamping selalu mengingatkan, sehingga diharapkan dapat menjadi kebiasaan baru yang melekat. Kegiatan juga dilaksanakan dengan mematuhi aturan physical distancing, jarang antar peserta minimal satu meter selama kegiatan dan selalu diingatkan oleh pendamping untuk menjaga jarak,” ujar dia.

Kegiatan berkebun dimulai dengan senam bersama untuk membiasakan kegiatan senam yang telah diajarkan sebelumnya, supaya peserta memiliki kegiatan yang rutin untuk melakukan senam otak yang tujuannya untuk memperbaiki fungsi keseimbangan otak dan kemampuan motorik.

Selanjutnya, semua peserta menuju lokasi kebun yang telah dipilih dan dengan menggunakan protokol kesehatan masa pandemi covid dengan cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak interakasi.  Peserta dibagi kelompok uantuk membagi tanggung jawab terhadap tugas dan pohon yang menjadi tanggung jawab tiap kelompok. Setiap peserta mendapat peralatan yang dibutuhkan, yaitu ember untuk menyiram, selang air, cangkul, pupuk.  Peserta pun dipandu untuk melakukan kegiatan bersama. Ada peserta yang mencangkul sekitar pohon sebagai tempat untuk menabur pupuk, sebagian peserta menabur pupuk dan menyiram.

“Mitra memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada tim pengabdian karena dapat memberikan terapi bagi PDM, dan berharap untuk kedepannya dapat di laksanakan kembali pelatihan guna membantu perkembangan kesehatan mental PDM. Motivasi PDM meningkat dalam mengikuti rehabilitasi berkebun yang dibuktikan dengan rutinnya PDM menyiram dan merawat kebun setiap hari. Selain itu, kemampuan motorik PDM meningkat dalam kegiatan berkebun sehingga PDM lebih terampil dalam mengambil air, memberikan pupuk, memangkas daun.” (Adv)