Kapasitas Perempuan sebagai Agen Perdamaian Perlu Ditingkatkan

Literasi Perdamaian Muhammadiyah bagi Pimpinan Ranting Aisyiyah Palbapang Barat, Palbapang, Bantul, di Masjid al-Fajar Kadirojo, Minggu (19/7/2020). - Istimewa
02 September 2020 01:27 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Hubungan Internasional Program Magister (HIPM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan tema Literasi Perdamaian Muhammadiyah. Kegiatan kerja sama dengan Pimpinan Ranting Aisyiyah Palbapang Barat, Palbapang, Bantul, ini dilaksanakan di Masjid al-Fajar Kadirojo pada Minggu (19/7/2020), yang dihadiri pengurus Aisyiyah.

Surwandono, Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional UMY yang menginisiasi Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Perserikatan Muhammadiyah (PPM-Muhammadiyah) mengatakan literasi perdamaian untuk Aisyiyah penting dilakukan untuk membangun karakter perempuan sebagai agen perdamaian.

“Narasi bahwa perempuan menjadi sumber konflik dalam sejumlah tafsir sejarah perlu diluruskan karena sebenarnya perempuan justru menjadi agen perdamaian. Konflik seringkali mengalami eskalasi dalam masyarakat dan sangat terkait dengan tidak dilibatkannya perempuan dalam pengambilan keputusan konflik. Perempuan yang secara alamiah memiliki potensi sebagai agen perdamaian perlu ditingkatkan kapasitasnya agar setara dalam proses pengambilan keputusan dalam masyarakat. Perempuan justru menjadi faktor penting bagi proses penciptaan harmoni sosial dalam masyarakat,” ujar dia melalui ketarangan tertulis kepada Harian Jogja.

Dalam pengabdian masyarakat tersebut, Surwandono memaparkan tentang gagasan teologi perdamaian al-Hujurat, sebagai basis nilai bagaimana Aisyiyah sebagai organisasi perempuan dapat berperan aktif dalam membangun perdamaian di masyarakat.

Sejumlah figur perempuan diungkap untuk membangun motivasi bahwa perempuan dapat berperan nyata dalam perdamaian, baik dalam sejarah Islam seperti peran Siti Aisyah untuk melakukan klarifikasi terhadap sejumlah fitnah yang terjadi dalam sejarah Islam. Keberanian Aisyah untuk mengklarifikasi fitnah, kata Surwandono, menunjukan bahwa perempuan dapat menjadi subjek perdamaian, dan bukan sekedar menjadi objek semata. Dia juga mencontohkan Tawakul Karman, seorang aktivis perempuan dari Yaman, perempuan pertama Arab, yang mendapatkan Nobel Perdamaian.

“Keberanian Tawakul Karman dalam mengampanyekan arti penting perdamaian merupakan contoh konkret bahwa perempuan menjadi agen penting dalam perdamaian,” ucap dia.

Kumardi, Pimpinan Ranting Aisyiyah Palbapang Barat, mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah bekerja sama secara rutin untuk meningkatkan kapasitas organisasi di Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah. “Kami berharap semoga pengabdian masyarakat ini dapat memberikan keberkahan bagi masyarakat dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,” ucap dia.