Ubah Kemasan Tempe dari Segi Empat Menjadi Segitiga, Cara UMY Menggenjot Produktivitas

Penyuluhan pengemasan produk tempe "Aulia" oleh Tim Pengabdian UMY. - Istimewa
28 Juli 2020 14:47 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, SLEMANUniversitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mendorong peningkatan mutu produk tempe "Aulia" melalui fermentasi terkendali dan teknik pengemasan serta sertifikasi halal.

Upaya itu adalah bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilakukan Tim Pengabdian UMY yang dipimpin Agung Astuti, dosen Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UMY.

Dalam kegiatan di perusahaan tempe “Aulia” Sleman pada 14 Juni-18 Juli 2020, Tim Pengabdian UMY memberikan penyuluhan kepada 15 karyawan dan jajaran manajemen “Aulia”.

“Tujuan pertama dari pengabdian ini adalah mengatasi kegagalan produk tempe karena terjadinya “orong-orong” (miselium jamur tidak tumbuh merata, sehingga menurunkan omzet perusahaan tempe Aulia” yang dikenal sebagai “tempe daun”,  dan itu merupakan salah satu keunggulan tempe “Aulia” sehingga lebih disukai konsumen,” kata Agung melalui keterangan tertulis kepada Harian Jogja.

Di musim kemarau, perusahaan tempe kesulitan mencari daun pisang sebagai pembungkus sehingga produksi tempe terganggu. Solusinya, UMY mengembangkan pengemasan tempe segitiga agar lebih irit daun pisang.

“Tujuan kedua dari pengabdian ini adalah membuat metode pengemasan tempe dengan daun lebih efisien dan terstandardisasi,” ujar Agung.

Pengabdian dimulai dengan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk meningkatkan mutu produk tempe melalui fermentasi terkendali.

“Seanjutnya, kami mengadakan pelatihan tentang penggunaan pelindung diri dan cuci tangan sesuai WHO dan membungkus tempe dengan daun metode segitiga. Untuk mendukung kegiatan tersebut, Tim Pengabdian UMY menghibahkan peralatan pelindung diri standar pabrik makanan dan alat pengemasan. Dengan hibah peralatan tersebut, karyawan pabrik bisa langsung praktik,” ucap Agung.

Produk tempe tersebut kemudian diuji di laboratorium, dan hasilnya menunjukkan kualitas yang sama bagusnya bila dibandingkan dengan produk tempe dengan kemasan segi empat.

Selanjutnya Tim Pengabdian UMY melatih karyawan pabrik untuk mengemas tempe segitiga. Tim Pengabdian UMY juga memberikan pemahaman akan pentingnya produk tempe terserfikasi halal dan pencantuman label halal pada kemasan, agar lebih meningkatkan kepercayan konsumen.

“Manajemen merasa sangat terbantu dengan adanya pengabdian dari UMY karena kegagalan produk tempe menurun dan efisiensi daun sekitar 50% dengan metode pembungkusan tempe segitiga. Selain itu, muncul peningkatan kesadaran pada karyawan akan kebersihan diri seperti cuci tangan yang benar menurut WHO, serta pentingnya menggunakan pelindung diri sesuai standar perusahaan makanan, kebersihan lingkungan dan pentingnya kebersihan daun,” kata Agung.

Menurut dia, karyawan merasa sangat senang dengan pembungkusan tempe metode segitiga karena lebih mudah, cepat, dan irit daun pisang.

“Melalui pengabdian ini, masalah kegagalan produk tempe dapat teratasi. Di musim kemarau tidak ada lagi kendala keterbatasan daun sebagai pembungkus, sehingga produksi meningkat.”