UMY Bikin Adrem di Srandakan Bantul Lebih Menarik

Pengemasan adrem menjadi lebih menarik berkat pelatihan Tim KKN UMY. - Istimewa
28 Juli 2020 13:37 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Dusun Sambeng II, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul, diisi dengan pelatihan produksi dan pemasaran adrem, makanan khas di Bantul.

Tim KKN yang dibimbing Desi Susilawati, dosen D3 Akuntansi, Program Vokasi UMY, ini memberikan pelatihan kepada 15 penduduk Sambeng dan komunitas produsen makanan tradisional adrem pada 23 Februari 2020.

“Tujuan kami adalah mengembangkan kawasan Dusun Sambeng II menjadi kawasan ekomomi mandiri dan kreatif  dan untuk mendorong masyarakat supaya bisa berpikir secara kreatif dan konstruktif dalam menghadapi tantangan global serta menciptakan masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan,” kata Desi Susilawati melalui keterangan tertulis kepada Harian Jogja.

Menurut dia, pemberdayaan industri rumahan produksi makanan tradisional adrem berguna menciptakan ekonomi keluarga yang mandiri dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti produksi, strategi  pemasaran, pengembangan pengelolaan, dan pemberdayaan  home  industry yang ada di Dusun Sambeng II.

“Setelah mengikuti kegiatan ini diharapkan mitra lebih memahami tahap packaging and labeling dan branding image (citra merek) sebagai strategi untuk menambah nilai produk dan menarik minat konsumen. Citra merek adalah seperangkat kenyakinan konsumen mengenai merek tertentu. Dengan adanya branding, produsen menunjukkan produknya mempunyai kualitas yang terpercaya. Branding sangat diperlukan oleh produsen karena dengan branding produsen sedang membuat target konsumen,” kata Desi.

Sasaran program KKN UMY adalah mitra usaha tani komunitas lokal produsen  olahan makanan tradisional adrem Dusun Sambeng II. Lewat program ini, UMY memberikan pelatihan pengemasan.

“Kemasan awal adrem di bungkus plastik dan daun pisang, namun  setelah pengabdian, dibuat kemasan dari bambu untuk lebih menguatkan ciri khas makanan tradisional,” ujar Desi.

 

Bungkus adrem juga ditempeli stiker  nama produk, tanggal produksi dan tanggal kedaluarsa. Di tengah kemasan diberi plastik mika aaar adrem bisa terlihat dengan mudah oleh pembeli. Kemasan juga didesain berwarna  sesuai variasi rasa adrem. Warna hijau muda menunjukkan adrem rasa pandan dan kemasan bambu tidak berwarna menunjukkan adrem rasa original. Produk ini kemudian diberi nama Adrem Sulastri, sesuai nama mitra KKN UMY.

Kemudian, pada 23 Februari 2020, Tim KKN UMY mengadakan pelatihan branding image yang juga dihadiri Kadus Sambeng II Agus Sujaka dengan narasumber Fachri Munthoha.

“Setelah mengikuti pelatihan, mitra lebih memahami mengapa di perlukan menciptakan branding image, mitra kini juga telah  memahami  uniq selling positioning. Mitra sangat antusias dan banyak melontarkan pertanyaan untuk mengembangkan citra merek,” kata Desi.

“Setelah mengikuti kegiatan ini, saya selaku mitra telah memiliki logo Adrem Sulastri agar lebih mudah diingat  dan ditempelkan di kemasan dan kami lebih memahami uniq selling positioning. Kami  juga diberikan pemahaman tentang costumer inside berupa pencerahan  yang membedakan apa yang dimaksud need dan want. Need adalah sesuatu yang dapat diukur seperti berapa banyak adrem yang di peroleh dengan uang Rp10.000, namun want adalah sesuatu  yang dapat dirasakan seperti rasa enak adrem sehingga dalam pikiran konsumen terbentuk hasrat untuk membeli kembali dan berujung pada loyalitas konsumen,” kata Sulastri, mitra Tim KKN UMY.