UMY Gairahkan Kembali Kerajinan Batik di Lendah Kulonprogo

Pelatihan dan pendampingan pemasaran batik di Lendah, Kulonprogo, yang diadakan oleh UMY. - Istimewa
27 Juli 2020 10:37 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Barbara Gunawan, dosen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan pelatihan dan pendampingan pemasaran batik di Lendah, Kulonprogo dari Maret sampai dengan Juli 2020. Pelatihan yang menjadi bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) UMY itu diikuti 15 perajin batik.

“Tujuan program pengabdian masyarakat ini adalah untuk melakukan pendampingan produksi dan pemasaran kepada mitra, yaitu Aricha Batik, yang memproduksi jenis batik kontemporer,” kata Barbara melalui keterangan tertulis kepada Harian Jogja.

Menurut dia, permasalahan pada aspek produksi adalah motif dan corak batik yang kurang beragam. Adapun pada aspek pemasaran, mitra UMY belum memiliki papan nama, mekanisme pemasaran yang konvensional, dan kemasan yang masih sederhana. Persoalan itu ditambah dengan datangnya pandemi.

“Pada awal masa pandemi Covid-19, terjadi penurunan permintaan yang sangat signifikan atas produk Aricha Batik. Penurunan permintaan tersebut berdampak pada berkurangnya aktivitas produksi, berkurangnya pendapatan, dan pada akhirnya pemilik merumahkan beberapa perajin,” ujar Barbara.

UMY kemudian memberikan beberapa solusi dari aspek produksi dan pemasaran. Program pengabdian yang dilakukan Barbara menawarkan solusi kepada Aricha Batik untuk memproduksi jenis batik yang diminati calon konsumen potensial.

“Dari dari aspek pemasaran, kami menawarkan solusi untuk membuat papan nama di lokasi produksi, membuat gift box, logo yang lebih menarik, memasarkan melalui sosial media. Kami juga menawarkan solusi berupa pendampingan penyusunan laporan keuangan sederhana,” kata Barbara.

Hasil dari kegiatan ini adalah bertambahnya keragaman motif batik, adanya logo (merek) yang menarik, adanya papan nama, gift box eksklusif, tas kertas dan tas plastik, pelatihan pemasaran, pelatihan penyusunan laporan keuangan, dan akun media sosial untuk memasarkan produk.

“Di samping melakukan pendampingan produksi dan pemasaran, kami juga menawarkan produk kepada konsumen potensial. Dari kegiatan tersebut muncul beberapa pesanan seragam kantor, yang membuat para perajin kembali berkarya sebagaimana biasanya, bahkan terjadi peningkatan penjualan dibanding sebelum masa pandemi,” ucap Barbara.