Dorong Keterlibatan Perempuan dalam Ekonomi Keluarga, UMY Gelar Pelatihan Membatik

Pelatihan membatik di Dusun Sembung, Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman. - Istimewa
06 Juli 2020 12:47 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Untuk meningkatkan keterampilan membatik dan mendorong keterlibatan perempuan dalam meningkatkan ekonomi keluarga, Nanik Prasetyoningsih, dosen Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar pelatihan batik tulis dan cap di Dusun Sembung, Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman.

Pelatihan yang menjadi bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) UMY itu dilaksanakan dua kali. Pelatihan batik tulis dan cap diadakan pada Minggu, 23 Februari 2020, sedangkan pelatihan batik sibori diadakan pada Minggu, 1 Maret 2020. Kegiatan ini diikuti 25 anggota PKK Dusun Sembung.

“Pelatihan batik yang dilaksanakan di Dusun Sembung bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membatik untuk mendorong motivasi keterlibatan ibu-ibu dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Batik memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga masyarakat Dusun Sembung,” kata Nanik Prasetyoningsih melalui keterangan tertulis yang diterima Harian Jogja, Sabtu (4/7/2020).

Pelatihan itu digelar dalam empat tahap, yakni sosialisasi mengenai nilai ekonomi batik, pelatihan batik tulis dan cap, pelatihan batik sibori, dan workshop pembuatan batik.

Dalam pelatihan batik tulis dan cap, peserta diarahkan membuat desain batik khas Dusun Sembung. Selanjutnya peserta diajari cara menuliskan motif batik ke kain. Proses ini dalam bahasa Jawa disebut  ngeblad. Pelatihan dilanjutkan dengan pelajaran menempelkan malam (lilin khusus untuk batik) ke kain. Proses ini disebut dengan nyanting.

“Setelah itu proses mewarnai, dengan menggunakan warna alami. Proses ini disebut nyelup. Batik yang sudah diwarnai lalu dijemur dan direbus untuk melepaskan malam dari kain. Proses ini disebut nglorot,” ujar Nanik.

Sementara, dalam pelatihan batik sibori, peserta dibebaskan membuat motif sibori dengan memanfaat barang yang dipunyai, seperti kelereng, pensil, stik es krim, karet. Motif sibori bisa dikreasi dalam bentuk lingkaran, kotak, segitiga, atau tidak beraturan. Setelah kain terbentuk, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.

Adapun workshop pembuatan batik hanya bisa diadakan satu kali karena pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas Dusun untuk sementara waktu ditiadakan dan dibatasi.

“Sehingga sampai sekarang pendampingan dan workshop belum bisa dilaksanakan,” kata Nanik.

“Peserta sangat senang dengan pelatihan tersebut, karena membatik adalah keterampilan baru bagi mereka dan bisa mendatangkan nilai ekonomi bagi keluarga. Peserta bersemangat untuk mengikuti workshop pembuatan batik, dengan harapan batik hasil karya mereka dapat dijual untuk mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Dusun Sembung, khususnya Ibu-Ibu PKK. Batik memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga hasil batik dapat membantu perekonomian warga, disamping juga upaya untuk melestarikan budaya batik yang menjadi khas Jogja.”