UMY Tangani Balita Stunting Lewat Sekolah Ibu Berbasis Masyarakat (SIBM)

Pembentukan Sekolah Ibu Berbasis Masyarakat (SIBM) di Kelurahan Bumijo, Jetis, Kota Jogja. - Istimewa
10 April 2020 13:47 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Titih Huriah, dosen Magister Keperawatan/Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), membuat Sekolah Ibu Berbasis Masyarakat untuk mencegah stunting. Ini adalah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilakukan UMY di RW 09, Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Jogja, selama Januari sampai dengan Februari 2020.

“Tujuan program ini adalah meningkatkan pemahaman ibu-ibu dalam memenuhi gizi balita stunting. Kegiatan ini diikuti 15 ibu yang memiliki balita stunting dan telah berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu dalam pemenuhan gizi balita stunting,” kata Titih melalui keterangan tertulis kepada Harian Jogja, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan stunting di Indonesia berada pada kisaran angka 30,8% dan pada 2019 turun menjadi 27,67%, tetapi masih jauh dari standar WHO yaitu di bawah 20%. Angka kejadian stunting di Kota Jogja sebesar 14,32% dan merupakan angka tertinggi di DIY. Menurut data dari Puskesmas Jetis, Kelurahan Bumijo merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Jetis dengan angka prevalensi stunting paling tinggi pada 2019, yaitu teridentifikasi 42 balita balita stunting.

“Masih tingginya angka stunting di Jogja menjadi permasalahan yang harus dicari dipecahkan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Hal ini pula yang mendasari kegiatan pengabdian masyarakat untuk penanganan stunting,” ujar Titih.

Titih Huriah yang menjadi Ketua Tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi Magister Keperawatan UMY sebelumnya mengembangkan Desa Pelita (Peduli Ibu dan Balita) di Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis.

“Hasil survei dan wawancara dengan masyarakat Bumijo teridentifikasi beberapa faktor risiko stunting seperti tingkat pendidikan ibu yang rendah, masih tingginya angka kejadian penyakit menular seperti tuberkulosis dan DBD, indeks keluarga sejahtera sebagian besar masih dalam kategori pra ejahtera dan lingkungan yang kurang sehat seperti kepadatan rumah, dekat dengan rel kereta dan dekat dengan sungai. Hasil musyawarah dengan puskesmas, kelurahan dan perwakilan warga, menyepakati pengabdian masyarakat untuk menurunkan angka kejadian stunting dengan melibatkan ibu-ibu yang memiliki balita,” ujar Titih.

Menurut dia, stunting merupakan masalah kesehatan yang dapat dicegah dengan memberdayakan masyarakat, khususnya ibu untuk diberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya gizi bagi anak balita. Pendidikan kesehatan dengan metode tertentu dapat mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan tindakan setelah diberikan edukasi yang cukup baik.

“Atas dasar ini maka dibentuklah Sekolah Ibu Berbasis Masyarakat (SIBM) yang merupakan sebuah pendekatan yang bertujuan untuk meningatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu-ibu dalam pemenuhan gizi balita stunting. Kegiatan ini dilaksanakan pertengahan Januari sampai dengan Februari 2020, rutin dilakukan sepekan sekali dengan durasi waktu setiap pertemuan adalah dua jam,” kata dia.

“Hasil kegiatan menunjukkan hasil yang menggembirakan karena telah terbentuk kelompok ibu yang setiap pekan belajar tentang cara pemenuhan gizi pada balita stunting. Kegiatan ini juga terbukti dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu balita dalam memenuhi kebutuhan gizi balita. Kegiatan ini sangat didukung oleh Lurah Bumijo, Leonard Hutapea. Dalam sambutannya, beliau menyatakan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warganya dan berharap keberlanjutan dari program SIBM ini. Hal senada juga disampaikan oleh ketua RW 09 Bumijo dan perwakilan dari Puskesmas Jetis yang sangat mengapresiasi kegiatan ini karena sejalan dengan program pemerintah yaitu menurunkan angka stunting pada balita.”