UMY Kembangkan Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Domisili

Pengabdian masyarakat berbasis domisili yang dilakukan Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk menanggulangi dampak Covid-19. - Istimewa
01 April 2020 19:57 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan pengabdian masyarakat berbasis domisili. Ini dilakukan LP3M untuk merespons banyaknya masyarakat yang terdampak pandemi virus Corona.

Kepala LP3M UMY Gatot Supangkat mengatakan permasalahan yang dihadapi dalam hidup manusia di masyarakat tidaklah sama. Oleh karena itu dibutuhkan pemecahan dan langkah yang berbeda untuk mengelolanya. Permasalahan umum yang sering dijumpai di masyarakat, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.  “Permasalahan ekonomi seringkali mengakibatkan permasalahan pendidikan dan kesehatan. Hal ini terutama bagi golongan masyarakat yang kurang beruntung dalam aksesibilitas, tidak berpenghasilan tetap, atau tidak mampu dalam menopang kebutuhan hidupnya,” ujar Gatot dalam siaran pers kepada Harian Jogja, Rabu (1/4/2020).

Menurut Gatot, fenomena tersebut menjadi sangat signifikan dalam kondisi bangsa dan lingkungan di mana masyarakat sedang menghadapi wabah virus Corona atau penyakit Covid-19. “Saat inilah sistem hankamrata atau pertahanan keamanan rakyat semesta harus dijalankan. Upaya berbasis kesehatan sudah dan harus dilakukan secara berkesinambungan, baik berbasis rumah, wilayah, bahkan negara agar perkembangan wabah dapat diminimalisasi,” ujar Gatot.

Menurut Gatot imbauan bekerja dari rumah (work from home/WFH), atau jaga jarak (social distancing) merupakan salah satu ikhtiar yang harus dilakukan untuk membatasi atau menghentikan perkembangan wabah Covid-19 secara efektif dan efisien. “Namun metode ini ternyata berdampak pada sendi perekonomian. Untuk itu, saatnya kita bersatu padu untuk menangani dan mengelola permasalahan yang kita hadapi saat ini dengan merevitalisai budaya tepa selira,” ujar Gatot.

Khusus bagi Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dengan Gerakan PKO-nya atau Penolong Kesengsaraan Oemoem yang dilandasi dengan teologi Al Maun mampu membantu masyarakat dalam memecahkan permasalahannya, sehingga mampu menyelamatkan, mengangkat harkat dan martabatnya. Gerakan KHA Dahlan terutama diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang beruntung aksesibilitasnya dalam kehidupan bermasyarakat tidak membedakan suku, ras, agama, dan lainnya. “Tidaklah sebenarnya seseorang beriman, di mana ia hidup kenyang, sedangkan ia mengetahui bahwa tetangganya di sebelah menderita kelaparan,” ungkap Gatot mengutip hadis riwata Bukhari.

Maka dari itu, lanjut Gatot, UMY melalui LP3M mengembangkan program pengabdian kepada masyarakat berbasis domisili bagi dosen dan tenaga kependidikan.

“Program pengabdian kepada masyarakat seperti ini sangat tepat dikembangkan, terutama antisipasi terhadap kondisi perkembangan wabah Covid-19 saat ini, sembari menjalankan metode work from home. Tujuan pengembangan program, yakni mendorong sivitas akademika UMY lebih bermanfaat dan bermakna bagi sekitarnya,” kata Gatot.

Program ini dilaksanakan dengan metode “direct action” dan untuk eksplorasi data kondisi riil masyarakat, terutama kebutuhan pokok hidup dapat dilakukan berbasis masjid dan/atau dusun setempat. Sasaran program ini, yaitu masyarakat wilayah perkampungan yang umumnya memiliki aksesibilitas rendah.

Harapan dari program ini, menurut Gatot,  dapat menolong masyarakat sekitar dalam menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan saat ini.

“Insyaallah program ini akan dikembangkan secara berkesinambungan dengan model dan metode yang sesuai dengan kondisi masyarakat sasaran,” tambah Gatot.

Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat LP3M UMY Adhianty Nurjanah mengatakan program pengabdian masyarakat berbasis domisili ini adalah wujud nyata pengabdian UMY dalam membantu masyarakat yang terdampak krisis akibat Covid-19 terutama bagi masyarakat yang bekerja di sektor informal yang terdampak.

“Program ini diharapkan sebagai triger positif untuk selalu peduli dan berbagi.  Meskipun sedikit semoga bermakna bagi masyarakat sekitar. Dalam langkah awal ini kami membahi bahan pokok berupa beras, gula dan minyak goreng serta hand sanitizer. Di sini kami bekerja sama dengan dosen UMY, Pimpinan Ranting Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah dan  takmir masjid yang berada di sekitar  kampus UMY,” kata Adhianty.