Fakultas Kedokteran UMY Beri Pemahaman tentang Kaitan Kencing Manis dan TBC di Saptosari

Pengembangan Media Edukasi untuk Pencegahan dan Deteksi Dini Komorbid Tuberculosisi-Diabetes Melitus (TB-DM) pada Kelompok Pasien Rentan di Puskesmas Saptosari, Gunungkidul, 20 Februari 2020. - Istimewa
09 Maret 2020 22:47 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (PSPD-FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengisi Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan memberdayakan pasien melalui kegiatan Pengembangan Media Edukasi untuk Pencegahan dan Deteksi Dini Komorbid Tuberculosisi-Diabetes Melitus (TB-DM) pada Kelompok Pasien Rentan.

Program itu dilaksanakan di Puskesmas Saptosari, Gunungkidul, pada 20 Februari 2020 lalu dan diberikan kepada 53 pasien kelompok  Program Layanan Penyakit Kronis (Prolanis) DM atau kencing manis.

“Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien kelompok rentan, dalam hal ini penderita DM, tentang kerentanan mereka terhadap tuberculosis (TB) dan gejalanya. Program ini juga bertujuan meningkatkan pengetahuan pasien tentang cara mencegah TB dengan meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan DM dan melakukan pola hidup sehat dan bersih. Terakhir, program ini bertujuan meningkatkan kapasitas petugas kesehatan dalam melakukan edukasi dan pemberdayaan pasien,” kata Merita Arini, dosen PSDP-FKIK UMY yang menjadi ketua program pengabdian masyarakat di Puskesmas Saptosari, melalui keterangan tertulis yang diterima Harian Jogja, Senin (9/3/2020).

Merita mengatakan berdasarkan laporan TB Global 2019, penderita penyakit menular ini di Indonesia berada di posisi ketiga terbanyak di seluruh dunia. Adapun diabetes mellitus (DM) atau kencing manis merupakan penyakit tidak menular yang jumlah penderitanya kian hari kian banyak karena adanya perubahan gaya hidup. Sementara, DIY selalu menempati posisi tiga besar dari 33 provinsi di Indonesia dalam prevalensi penderita DM dalam satu dekade terakhir.

“Data statistik menunjukkan bahwa 10-30% penderita TB adalah penderita DM. Tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa DM merupakan faktor risiko TB di samping merokok, HIV/AIDS, konsumsi alkohol dan malnutrisi. Artinya, jika seseorang menderita DM, ia berisiko lebih tinggi tertular TB. Hal tersebut disebabkan karena adanya penurunan daya tahan tubuh pada penyandang DM. Jika pasien DM tertular TBC, umumnya kondisinya juga lebih berat dibandingkan pasien non-DM karena lebih mudah kambuh, kuman menjadi resisten obat, bahkan kematian lebih tinggi. Selain itu, pengobatannya juga menjadi lebih sulit karena dalam kondisi ini, pasien DM harus menggunakan insulin,” ucap Merita.

Program pengabdian UMY di Puskesmas Saptosari pada 20 Februari lalu adalah rangkaian dari beberapa kegiatan yang meliputi eksplorasi kebutuhan edukasi pasien dan petugas kesehatan, penyusunan media edukasi, termasuk review oleh pakar dan pengguna, serta pelatihan petugas kesehatan. Merita mengatakan Kabupaten Gunungkidul belum memulai implementasi program kolaborasi TBC-DM.

“Kami ingin pasien DM lebih aware, bahwa mereka adalah populasi rentan, sehingga setidaknya mereka bisa melakukan tindakan-tindakan pencegahan dan segera memeriksakan diri jika mendapati gejala-gejala yang mengarah ke TBC,” ujar Merita.

Dalam kegiatan ini, penderita kencing manis yang tergabung dalam kelompok Prolanis menerima materi tentang TBC, bagaimana gejalanya, serta bagaimana mencegahnya.

“Pasien kami edukasi supaya sadar bahwa jika dia tidak rajin kontrol dan gula darahnya tinggi mereka akan mudah tertular TBC,” kata Rokhmat,dokter fungsional Puskesmas Saptosari di sela-sela kegiatan.

Kegiatan ini digagas dosen Fakultas Kedokteran UMY yang terdiri dari Merita, Fitria Nurul Hidayah, dan Denny Anggoro Prakoso.

“Kegiatan ini merupakan inisiasi dari upaya pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian penyakit baik menular maupun tidak menular. Hal ini perlu terus menerus dilakukan karena globalisasi menyebabkan perubahan epidemiologi penyakit seperti adanya penyakit menular dan tidak menular kronis yang terjadi pada seseorang atau dikenal sebagai komorbiditas. Dengan kegiatan ini, UMY makin menunjukkan perannya dalam mewujudkan sustainable development goals di masyarakat,” ucap Merita.