UMY Kerja Sama dengan Pimpinan Cabang Aisyiyah Ngampilan Gelar Literasi Media Sehat untuk Hadapi Hoaks

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Ngampilan menggelar pelatihan Literasi Media Sehat untuk menghadapi hoaks pada Rabu (19/2/2020). - Istimewa
21 Februari 2020 16:47 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, JOGJAUniversitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Ngampilan menggelar pelatihan Literasi Media Sehat untuk menghadapi hoaks pada Rabu (19/2/2020).

Tim Pengabdian kepada Masyarat UMY diketuai Adhianty Nurjanah, dosen Ilmu Komunikasi UMY, dan beranggotakan Dyah Mutiarin.

Menurut Adhianty, pengabdian masyarakat ini dilakukan karena anggota PCA Ngampilan membutuhkan literasi media untuk menghadapi hoaks di era digital.

“Harapan kami, dengan literasi media ini ibu-ibu anggota dan pengurus Pimpinan Cabang Aisyiyah Ngampilan mampu menjadi insan yang cerdas menghadapi hoaks dengan selalu tabayun terhadap informasi yang didapatkan sebelum mengonsumsi apalagi membagikan kepada yang lain,” kata Adhianty melalui keterangan tertulis yang diterima Harian Jogja, Jumat (21/2/2020).

Pelatihan yang dikemas dengan metode sharing session diikuti seluruh pengurus dan anggota Pimpinan Cabang Aisyiyah Ngampilan. Ketua PCA Ngampilan Siti Bari’ah yang menghadiri pelatihan menyambut baik dan berterima kasih atas kerja sama  UMY.

“Kami berharap kegiatan ini bisa dilanjutkan sehingga PCA Ngampilan bisa berkemajuan dan seluruh anggota dan pengurus mampu menjadi insan yang cerdas, terutama saat mengakes informasi di media sosial,” ujar Siti Bari’ah.

Adhianty mengatakan masyarakat dewasa ini hidup di tengah derasnya perkembangan sistem komunikasi dan sesaknya media (media-saturated world) yang membuat setiap orang harus waspada pada setiap informasi yang disampaikan.

“Masyarakat harus berhati-hati dan tabayun akan informasi yang disampaikan melalui radio, surat kabar, televisi maupun internet,” kata dia.

Kehadiran media sosial juga menjadi keuntungan sekaligus permasalahan.

“Media sosial membuat kita dapat bertukar informasi dengan semua orang tanpa batasan jarak dan waktu. Tetapi, dengan maraknya informasi di media sosial, berita bohong atau palsu [hoaks] menjadi fokus perhatian. Hoaks merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Dengan kata lain hoaks juga bisa diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta, informasi seolah-olah meyakinkan tetapi tidak dapat diverikasi kebenarannya,” ujar Adhianty.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi Tim Pengabdian Masyarakat UMY, anggota dan pengurus Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Ngampilan secara aktif menjadi konsumen media, terutama TV, dan internet yaitu Whatsapp.

“Selama ini belum pernah ada literasi media di PCA Ngampilan, padahal literasi media merupakan kebutuhan masyarakat yang berdaya dan melek informasi. Oleh karena itu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Pimpinan Cabang Aisyiyah Ngampilan bersinergi bersama untuk hadapi hoaks melalui kegiatan ini,” ujar Adhianty.

Dosen UMY juga melakukan beberapa tahapan yakni focus group discussion dengan pengurus PCA Ngampilan dan melakukan penilaian (assesment) terhadap permasalahan rendahnya kesadaran bermedia yang sehat, pelatihan literasi media sehat, penerbitan buku literasi media sehat, dan pendampingan.