PPDM UMY Promosikan Joglo Jetis sebagai Sentra Produksi Kandang Bambu

Kegiatan PPDM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Dusun Jetis RT 03, Daleman, Giangharjo, Pandak, Bantul. - Ist/Dok UMY
30 Desember 2020 19:07 WIB Pengabdian UMY Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Dusun Jetis RT 03, Daleman, Giangharjo, Pandak, Bantul mengambil tema Desa Wisata Joglo Jetis RT 03 Gilangharjo sebagai Desa Penghasil Kandang Bambu.   

Dosen pelaksana kegiatan tersebut, Rela Adi Himarosa menyebutkan tujuan program ini adalah mempromosikan kegiatan Joglo Jetis dan mengangkat daerah Jetis RT 03 sebagai sentra produksi kandang bambu. Rangkaian kegiatan ini digelar 1 Februari hingga 1 Juli 2020 dengan sasaran 10 warga produktif.

Ia menyebutkan latar belakang tema kegiatan ini adalah kebudayaan Jawa sudah mulai terkikis di era globalisasi seperti karawitan dan wayangan. "Dusun Daleman, Gilangharjo merupakan dusun yang masih kuat dan memperhatikan akan pentingnya kebudayaan," katanya, dalam rilis, Selasa (29/12/2020).

Acara yang diihadiri oleh para dalang dan masyarakat dusun  berlangsung meriah karena sentuhan seni Dalang Ramijo yang memainkan lakon Wayang Pandawa dan Punakawan yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Ia mengatakan bahwa kebudayaan Jawa sudah hampir punah karena adanya game melalui gadget atau handphone, melalui pagelaran ini diharapkan adanya rasa guyub atau pemersatu antar warga dusun daleman.

Pagelaran ini juga diadakan untuk mengingatkan generasi muda sebagai penerus bangsa untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa atau yang biasa disebut dengan istilah dadi bocah kudu Njawani.

“Bangunan ini memiliki banyak sejarah dan nilai kebudayaan, terlebih di dalamnya ada seperangkat alat gamelan yang digunakan untuk karawitan sanggar seni,” kata Rela Adi Himarosa yang merupakan dosen Prodi Teknik Mesin tersebut.

Ia menambahkan keberadaan Joglo sebagai cagar budaya perlu dilestarikan, sehingga semakin dikenal keberadaannya, semakin banyak acara budaya yang dilaksanakan di Joglo tersebut, semakin terkenal desa tersebut. Selain itu, dikenalnya desa tersebut diharapkan mampu meningkatkan potensi warga sebagai sentra produksi kandang bambu.

Ketua sanggar seni, Yoto, menyambut baik kegiatan ini karena menurutnya bisa memberikan manfaat yang besar demi keberlangsungan sanggar.

"Semakin dikenalnya Joglo Jetis sebagai cagar budaya oleh masyarakat diharapkan ikut mampu mengangkat potensi warga sekitar Joglo sebagai sentra produksi kandang ayam bambu. Hal ini disambut baik dan memberikan manfaat yang besar demi keberlangsungan sanggar," katanya. (ADV)